Silakan download dan dengarkan HIMNE KAWYAMANDALA di sini!

 

dipersembahkan kepada Rakawi Nusantara, semoga alunan nyanyian kawya terus menggema...

Om gurubhyo namah, harih Om.

 

Om svastyastu,

Santikatmaka ring asing kawya.

 

(...kami menyebut Girimanggala, tempat kami dilahirkan, tempat kakawin dan tembang selalu mengalun; dan Bukit Tanda di mana desa para rumput ilalang berbunga pada sasih Kartika. Di sini, di kedua tempat itu dalam daratan Kuncaradipa berbentuk keris yang berada di tengah Pulau Bali...).

 

Selamat datang di Pasraman Mandalakawi, ruang sastra para pujangga. Kata mandalakawi diambil dari Bahasa Sanskerta mandala (ruang) dan kawi (puisi). Pasraman dunia maya Mandalakawi (Mandalakawi Virtual Ashram) kami khususkan untuk preservasi sastra hasil karya para pujangga Hindu-Buddha Nusantara seperti kakawin, kidung, palawakya, dan gaguritan. Oleh sebab itu pula kami mengambil slogan samtikatmaka ring asing kawya (hati damai dalam setiap puisi).

MANDALAKAWI Virtual Ashram adalah media web yang memuat karya-karya pujangga Nusantara pada zaman kerajaan dahulu yang berupa kakawin, palawakya, gaguritan, dan kakidungan. Di bagian lain terdapat pula informasi tentang beberapa naskah/buku kakawin serta di mana bisa didapatkan; yang akan membantu para penjelajah untuk belajar lebih banyak tentang bagaimana menyanyikannya.

Kakawin, seperti asal katanya yaitu kawya berarti lagu atau nyanyian. Kakawin adalah bentuk sajak bermetrum dan berbahasa Jawa Kuno (yang kemudian disebut Bahasa Kawi atau bahasa para pujangga karena bahasa ini banyak digunakan dalam sastra pada masa itu). Ada puluhan, bahkan ratusan metrum kakawin yang tidak semuanya dapat kami rangkum di sini.

Selama beratus-ratus tahun sejak keruntuhan kerajaan Hindu di Nusantara, khususnya di Tanah Jawa, keberadan kakawin di Jawa mengalami kemerosotan. Pada sekitar abad XV, kakawin serta beberapa kesenian Jawa seperti lontar dan pusaka-pusaka kerajaan diselamatkan ke Bali dan tetap bertahan hingga kini. Bahkan, keberadaan kakawin, kidung, dan pupuh tumbuh subur di Bali karena terus dipelihara melalui pelaksanaan upacara keagamaan. Hampir di setiap upacara besar Hindu di Bali dikumandangkan bait-bait kakawin yang notabene berasal dari Jawa. Juga dalam lomba-lomba tembang baik tingkat pelajar maupun umum yang sering diselenggarakan oleh pemerintah untuk melindungi dan melestarikan kebudayaan sastra kuno yang luhur tersebut, kakawin tidak pernah absen dari kategori lomba.

Dewasa ini di Bali, meskipun belum terlalu signifikan, keberadaan kesenain sastra kuno tersebut berangsur-angsur mengalami nasib yang sama dengan apa yang terjadi di Jawa 500 tahun lalu. Kakawin, palawakya, gaguritan, dan kidung sudah mulai tidak diminati oleh generasi muda. Sebaliknya, generasi muda lebih tertarik kepada musik dan lagu-lagu modern yang kadang-kadang kurang mendidik. Alangkah lebih baik jika kita kembali menggunakan budaya sendiri untuk berekspresi.

Lunturnya minat pada kakawin sepertinya berakar pada anggapan bahwa mempelajarinya sulit. Alasan ini memang dapat dibenarkan: mempelajari kakawin memang sulit, namun bisa dikatakan susah-susah gampang. Kakawin dalam penyanyiannya memerlukan suara bulat dan bervibrasi yang hanya dapat dibentuk melalui latihan intensif. Sementara itu, bagaimana seseorang dapat berlatih secara intensif jika ia tidak mau memulai latihan? Ini masalah kedua: minat. Generasi muda, ketika mereka masih sangat muda sayangnya tidak sempat (atau lebih tepatnya tidak mau) diajari dan diperkenalkan dengan dunia kakawin, kidung, dan gaguritan oleh generasi yang lebih tua. Beberapa dari mereka, ketika baru saja mampu berjalan langsung diajak duduk dan diajari cara menyalakan TV. Syukur jika acara yang mereka tonton adalah acara budaya yang mendidik, namun bagaimana jika yang mereka tonton adalah berita kriminal, konser-konser rock, atau film dewasa?

Di bagian lain dari situs ini, kami menawarkan beberapa lagu berbahasa Kawi gubahan sendiri yang dikemas dalam format modern. Lagu-lagu tersebut diformat dalam nada pelog dan bisa di-download langsung dari situs ini.

Singkatnya, kakawin dan sastra kuno lainnya harus dilestarikan. Sastra karya para pujangga masa lalu sarat akan ajaran keagamaan (khususnya Hindu dan Buddha) dan ajaran moral yang sungguh tepat diajarkan kepada anak-anak. Ajaran-ajaran ini, saya yakin tidak akan pernah ketinggalan zaman karena berasal dari pengejawantahan Veda (Hindu) dan Sutta (Buddha). Untuk tujuan itulah situs ini dibuat. Kami harap para penjelajah dapat bersama-sama melestarikan karya tetua kita yang sarat ajaran luhur ini.

 

Om, santih santih santih.